Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, Oktober 21, 2012

10 Hal Unik Tentang Sejarah Indonesia

1. Tiga orang Presiden RI pertama memiliki bulan lahir yang sama, yaitu bulan juni. Bungkarno lahir 6 Juni 1901 (Bernama asli Kusno Sosrodihardjo). Pak Soeharto 8 Juni 1921. Sedangkan Pak Habibie 25 Juni 1936.







2. Istana Merdeka mulai dibangun pada tahun 1873 dan selesai pada tahun 1879. Istana tsb di rancang oleh arsitek Drossares dengan luas 6,8 hektar dan 16 jumlah anak tangga yg terdapat di bagian depan gedung.




3. Sebelum digunakan oleh pemerintah indonesia, Istana Kepresidenan Bogor digunakan sbg rumah peristirahatn gubernur jenderal Belanda. Tercatat 44 orang gubernur jenderal Belanda pernah menjadi penghuni istana yang pada masa penjajahan bernama Istana Buitenzorg



4. Istana Kepresidenan Tampaksiring merupakan satu-satunya Istana RI yang dibangun setelah Indonesia Merdeka, tepatnya pada tahun 1957



5. WR. Soepratman, pencipta lagu kebangsaan wafat pada tgl 17 Agustus 1938. Tepat tujuh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan RI dinyatakan



6. Lagu 'Indonesia Raya' di ciptakan pada tahun 1942 (ralat tahun 1924) dan dikumandangkan untuk pertama kalipada tanggal 28 Oktober 1928, tepatnya pada penutupan acara Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda.

7. Mobil dinas Kepresidenan RI yang pertama adalah mobil Buick keluaran tahun 1939 yang digunakan Alm. Bung Karno. Sedangkan Alm. Bung Hatta menggunakan mobil dinas De Soto yang merupakan hadiah dari pengusaha sekaligus pamannya, Djohan Djohor. Kedua mobil ini dpt dilihat di Gedung Joang '45, Jakarta


Buick


De Soto

8. Republik Gabon di Afrika Barat memiliki tanggal kemerdekaan yang sama dengan RI. Bedanya, Gabon merdeka pada tahun 1960



9. Rupiah dinyatakan sebagai mata uang nasional RI pada tanggal 2 November 1949.



10. 21 jumlah dentuman meriam yang dibunyikan untuk menyambut tamu negara yang merupakan kepala negara. Sedangkan untuk menyambut tamu negara yang merupakan kepala pemerintahan di bunyikan 19 kali dentuman meriam.




By : Mahyun Syafril Hidayat

Sabtu, Oktober 13, 2012

Pantai Ujong Blang Lhokseumawe


Pantai Ujong Blang adalah salah satu pantai di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara yang cukup terkenal. Pantai Ujong Blang terhampar dari muara sungai Cunda (kuala cangkoi) yang meliputi empat wilayah desa yaitu Desa Ujong Blang, Ulee Jalan, Hagu Barat Laut, dan Desa Hagu Tengah.
Pantai Ujong blang dinamakan berdasarkan desa di mana pantai ini berada. Arti "Ujong Blang" sendiri dalam bahasa aceh adalah "ujong" berarti ujung dan "blang" berarti sawah atau hamparankebun. Karena pada awalnya, wilayah Lhokseumawe terdiri dari areal sawah, rawa, dan tanah kosong.
Pantai Ujong Blang yang sekarang telah mengalami abrasi yang sangat parah, sehingga hamparan pantai yang pada awal era 90-an dulu mencapai puluhan meter dari bibir pantai menjadi berkurang drastis. Namun begitu, Pantai Ujong Blang masih tetap diminati sebagai tujuan wisata para turis lokal untuk menghabiskan hari libur. selain karena jarak nya yang dekat, objek wisata ini juga memiliki fasilitas yang cukup baik.
Disekeliling pantai banyak dijumpai pondok-pondok untuk bersantai dengan teman dan keluarga, menikmati keindahan pantai dan setiap sore pasti akan ada sekelompok nelayan yang menarik pukat atau jaring untuk ikan-ikan mereka. 
Setiap lebaran pasti tempat ini ramai dikunjungi, tidak hanya warga lokal namun banyak sekali dari luar Lhokseumawe, sampai-sampai mereka menyewa bus atau kendaraan untuk penumpang banyak lainnya.



Posted By : Roza Rizkina (RR)

Asal Usul Kota Lhokseumawe


Asal Kata Lhokseumawe adalah "Lhok" dan "Seumawe". Lhok artinya dalam, teluk, palung laut, dan Seumawe artinya air yang berputar-putar atau pusat mata air pada laut sepanjang lepas pantai Banda Sakti dan sekitarnya.
Sebelum abad ke-20, negeri ini telah diperintah oleh Uleebalang Kutablang. Tahun 1903 setelah perlawanan pejuang Aceh terhadap penjajah Belanda melemah, Aceh mulai dikuasai. Lhokseumawe menjadi daerah taklukan dan mulai saat itu status Lhokseumawe menjadi Bestuur Van Lhokseumawe dengan Zelf Bestuurder adalah Teuku Abdul Lhokseumawe tunduk di bawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga Wedana serta Asisten Residen atau Bupati.
Pada dasawarsa kedua abad ke-20 itu, di antara seluruh daratan Aceh, salah satu pulau kecil luas sekitar 11 km² yang dipisahkan Sungai Krueng Cunda diisi bangunan- bangunan Pemerintah Umum, Militer, dan Perhubungan Kereta Api oleh Pemerintah Belanda. Pulau kecil dengan desa-desa Kampung Keude Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong, Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteuen Bayi, dan Kampung Ujong Blang yang keseluruhannya baru berpenduduk 5.500 jiwa secara jamak disebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta api dan kantor-kantor lembaga pemerintahan.
Pada mulanya Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder Van Cunda. Penduduk didaratan ini makin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara, Matangkuli, Blang Jruen, Lhoksukon, Nisam, cunda serta Pidie.
Pada tahun 1956 dengan Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, terbentuk daerah-daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkup daerah Provinsi Sumatera Utara, di mana salah satu kabupaten diantaranya adalah Aceh Utara dengan ibukotanya Lhokseumawe.
Kemudian Pada Tahun 1964 dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Aceh Nomor 34/G.A/1964 tanggal 30 November 1964, ditetapkan bahwa kemukiman Banda Sakti dalam Kecamatan Muara Dua, dijadikan Kecamatan tersendiri dengan nama Kecamatan Banda Sakti.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, berpeluang meningkatkan status Lhokseumawe menjadi Kota Administratif, pada tanggal 14 Agustus 1986 dengan Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 1986 Pembentukan Kota Administratif Lhokseumawe ditandatangani oleh Presiden Soeharto, yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Soeparjo Roestam pada tanggal 31 Agustus 1987. Dengan adanya hal tersebut maka secara de jure dan de facto Lhokseumawe telah menjadi Kota Administratif dengan luas wilayah 253,87 km² yang meliputi 101 desa dan 6 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan yaitu: Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Dewantara, Kecamatan Muara Batu, dan Kecamatan Blang Mangat.
Sejak Tahun 1988 gagasan peningkatan status Kotif Lhokseumawe menjadi Kotamadya mulai diupayakan sehingga kemudian lahir UU Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001 yang ditandatangani Presiden RI Abdurrahman Wahid, yang wilayahnya mencakup tiga kecamatan, yaitu: Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat.
PROFIL KOTA LHOKSEUMAWE
Provinsi : Aceh
Ibukota : Lhokseumawe
Luas : ± 181,10 km²
Dasar hukum : UU No. 2 Tahun 2001
Tanggal - Hari jadi : 21 Juni 2001
Koordinat : 04° 54’ – 05° 18’ LU dan 96° 20’ – 97° 21’ BT
Kecamatan : 4
Kemukiman : 9
Gampong : 68
Kode area telepon : 0645
Suku : Aceh
Bahasa : Aceh, Indonesia
Agama : Islam
Jumlah Penduduk :
Dinas Catatan Sipil (Juli 2011) : 190.648 jiwa
Badan Pusat Statistik (Maret 2011) : 189.102 jiwa
Dikutip dari Situs web resmi pemerintahan kota lhokseumawe

By : Irma Surya Anisa

Jumat, Oktober 12, 2012

Asal Usul Garuda Pancasila




Apa lambang Negara Republik Indonesia? Ya Burung Garuda. Mengapa Negara kita menggunakan lambang Negara seperti itu? Sejak kapan menggunakan lambang Negara tersebut? Apa saja arti dari Lambang Negara RI itu?












Burung garuda berdekatan dengan burung elang Rajawali. Burung ini terdapat dalam lukisan di candi-candi Dieng yang dilukiskan sebagai manusia berparuh dan bersayap, lalu di candi Prambanan, dan Panataran berbentuk menyerupai raksasa, berparuh, bercakar dan berambut panjang.

Beberapa kerajaan di pulau jawa menggunakan Garuda sebagai materai/stempel kerajaan, seperti yang disimpan di Musium Nasional, adalah stempel milik kerajaan Erlangga.





Pencipta Lambang Negara Burung Garuda Pancasila



Garuda itu adalah seekor burung yang hidup dalam dunia khayalan, terutama dalam pewayangan. Garuda dianggap mulia karena memiliki kekuatan dan kecantikan parasnya. Sehingga banyak yang menggunakannya dalam berbagai kegiatan yang dianggapnya menunjukkan sebuah power dan tentunya kebebasan karena garuda bebas bisa terbang ke mana saja.

Ketika menjelang HUT RI ke 60, di SCTV ada cerita seorang yang meneliti tentang asal-usul lambang negara kita. Penelitian ini adalah thesis S2 di UGM. Dari sekian gambar yang masuk, dipilihlah burung garuda ini (peserta harus menyematkan 5 pilar/sila yang dikenal sebagai Pancasila). Dari gambar burung purba sampai garuda diperlihatkan dalam siaran tersebut. Karena memang mencari jawaban tanya selama ini, siapa yang menggagas lambang RI?, banyak yang bilang Moh. Yamin, namun ternyata usulan Moh. Yamin, ditolak Presiden Soekarno. Penasaran ini terjawab sudah, karena di buku jarang banget yang dibahas, sama sebelum tahun 2000-an, bila mencari siapa yang menggagas nama Indonesia.


Sultan Hamid II




Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila Pancasila? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?

Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak,kedua anaknya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.

Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.

Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan "over commando" kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.

Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan, Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan "ide perisai Pancasila" muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku "Bung Hatta Menjawab" untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.

Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".

Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.

AG Pringgodigdo dalam bukunya "Sekitar Pancasila" terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "Gundul" dan "tidak berjambul" seperti bentuk sekarang ini.

Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang "Gundul" menjadi "berjambul" dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.

Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.

Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.

by: Muhammad Ali

Sabtu, Oktober 06, 2012

Let's Visit Lhokseumawe

Lhokseumawe ialah sebuah kota kecil yang terdapat di kabupaten Aceh Utara . Sebuah kota yang biasa dibandingkan dengan Ibukota Aceh yaitu Banda Aceh . Tpi Inilah kota Lhokseumawe yang sederhana tapi mengasyikkan,menyenangkan,dan tak akan pernah bisa terlupakan . Inilah kota kelahiran saya.

Berikut Ini ialah beberapa tempat yang tidak boleh anda lewati jika berkunjung ke lhokseumawe :
      1.  Waduk

Tempat yang satu ini sangat tidak asing lagi bagi pemuda pemudi yang berada di Lhokseumawe. Tempat ini sering dikunjungi anak-anak muda gaul lhokseumawe setiap sore dan malam hari jika cuaca tidak hujan, karena disini akan melihatkan kota Lhokseumawe dan masjid Islamic Center yang berdiri tegap. Sungguh indah, dan jika malam tiba akan terlihat lampu di sepanjang jalan waduk itu sendiri dan lampu-lampu di kota Lhokseumawe. Selain itu di sekitar waduk lhokseumawe juga terdapat jajanan-jajanan yang disajikan khusus untuk kita yang akan menikmati keindahan waduk seperti : somay,Bakso bakar,Jagung bakar,Batagor yang enaknya bukan main.
 2.  Taman Riyadhah
Tempat ini juga tidak pernah sepi akan pengunjung,tempat ini selalu saja menjadi sasaran bagi anak-anak,orangtua,maupun anakmuda. Dan juga kerap kali sering diadakan event-event seperti pameran,pasar malam,mandi bola,mobil-mobilan kecil,dll . Banyak juga para orangtua membawa anak-anaknya kesini untuk sekaligus menikmati taman yang asri yang terletak di tengah-tengah kota ini. Anak muda juga tak kalah sering mengunjungi tempat ini bahkan untuk berfoto-foto ria,karena pemandangannya sangat lah indah .

3.Air Terjun Blang Kolam
Air terjun ini terletak di daerah pedalaman yang memakan waktu perjalan ± 45 menit dari kota Lhokseumawe. Dahulu jalan menuju ke tempat ini sangatlah buruk, namun jangan khawatir sekarang jalannya sudah mulus dan layak untuk di lewati. Dalam perjalan menuju ke tempat ini kalian akan di manjakan dengan keindahan sawah-sawah yang ada di kanan kiri jalan. Untuk dapat menikmati air terjun ini sobat di kenakan biaya parkir kendaraan dan tiket masuk. Jangan kaget, karena sumber air terjun dari tempat parkirnya sobat akan turun ke bawah bukit yang melewati ± 200 anak tangga cukup membuat kaki nyot-nyotan inilah sebabnya mengapa saya tulis "Penuh Perjuang". Jika sudah sampai ke bawah rasa capek akan segera hilang jika sobat berendam di bawah air terjunnya, Tapi akan berjuang lagi nanti waktu naiknya keatas.
Untuk yg menginginkan kesejukan dan ketenangan tempat ini pantas dipilih. Alamat Lokasi : Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur. Kabupaten Aceh Utara. Jarak tempuh sekitar 21 km dari kota Lhokseumawe. Bagi yg ingin merasakan dinginnya air terjun, bisa berendam disini atau sekedar bersantai diakhir pekan.

4.Krueng Cunda 
Krueng Cunda adalah aliran laut yang memisahkan daratan Lhokseumawe dengan daratan Pulau Sumatera. Namanya berasal dari bahasa Aceh "Krueng" artinya sungai dan "Cunda" adalah nama wilayah yang dialiri sungai ini. Krueng Cunda sebenarnya adalah selat, bukan sungai.
Krueng Cunda ini dijadikan tempat budidaya ikan air asin oleh penduduk sekitar, karena selain airnya cukup bersih juga tidak ada ombak atau riak besar yang dapat merusak keramba atau penampungan ikan milik penduduk yang rata-rata terbuat dari kayu dan bambu.
5.Pantai Ujong Blang 
Pantai Ujong Blang adalah salah satu dari beberapa pantai yang berada di Kota Lhokseumawe yang cukup terkenal. Pantai Ujong Blang terhampar dari muara sungai Cunda (kuala cangkoi) yang meliputi empat wilayah desa, yaitu Desa Ujong Blang, Ulee Jalan, Hagu Barat Laut danDesa Hagu Tengah. Pantai ini ramai di kunjungi pada Sabtu Sore dan hari Minggu juga hari-hari libur nasional, Mayoritas pengunjungnya adalah para Remaja disekitar kota lhokseumawe. Di tempat ini tersedia rumah makan singgah yang terdapat di sepanjang pinggiran pantai yang menyediakan Kelapa Muda, Rujak, dan lain sebagainya, sangat cocok untuk acara ngumpul-ngumpul bareng keluarga maupun sahabat. walaupun mungkin untuk masyarakat lhokseumawe sudah bosan untuk mengunjungi pantai ini, tetapi tetap tempat ini tidak pernah sepi dari pada pengunjung.
6.Pulau Seumadu
Pulau Seumadu terletak di Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Lokasi wisata pulau seumadu ini berada sekitar 10 kilometer arah timur Kota Lhokseumawe. Jika sampai di depan komplek perumahan PT. Arun, maka berbeloklah ke kiri dan Ikuti jalan tersebut. Sekitar 100 meter dari Jalan Medan - Banda Aceh, tepat didepan Kompleks PT. Arun, akan dapat ditemui lokasi wisata pantai tersebut.  

7.Pantai Rancong
Pantai Rancong yang bersebelahan dengan Pulau Seumadu merupakan objek wisata alam yang berada di Aceh tepatnya di Kota Lhokseumawe. Keindahan pantai ini dapat memukau wisatawan asing maupun domestik, apalagi pada saat hari libur tiba sangat ramai pengunjungnya, terlebih untuk akhir pekan berkumpul bersama keluarga akan lebih menyenangkan.

8.Pantai Reklamasi Pusong
Pantai Reklamasi Pusong adalah pantai yang berada di Pulau Pusong, tetapi disebabkan oleh abrasi dan pengerukan pasir, pantai ini menjadi tidak terawat, sehingga luas pantai yang berada di Pusong menjadi terasa kecil. Pulau Pusong sendiri yang awalnya sangat luas, kini luasnya hanya sekitar 6 hektare dan dihuni sekitar 8000 jiwa.

9.Museum Malikussaleh
Museum Malikussaleh yang terletak di tengah Kota Lhokseumawe ini mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan abad VIII. Museum ini menyimpan 500 jenis benda tradisional dan artefak sejarah. Selain itu, museum yang beralamatkan di jalan Mayjend T. Hamzah Bendahara, Kota Lhokseumawe juga mengoleksi mata uang dirham: yaitu mata uang dari emas yang berfungsi sebagai alat pembayaran masa kerajaan Aceh Darussalam. Selain itu, museum yang dikelola oleh Yayasan Malussaleh itu pun mengoleksi 1.050 buku, 50 kitab dan 20 hikayat perang sabil. Alamat Lokasi : Jln.T. Hamzah Bendahara. Lhokseumawe. Kabupaten Aceh Utara. Museum Malikussalah adalah Museum yang berada di Kabupaten Aceh Utara

10.    Makam Teuku Cik Di Tunong 

Teuku Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Cik Di Tunong adalah pahlawan yang melakukan perlawanan terhadap Belanda yang juga merupakan suami dari seorang Pahlawan Nasional Cut Nyak Meutia. Namun pada bulan Maret 1905, Teuku Cik Di Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Cik Di Tunong berpesan pada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi

11.Makam Putroe Neng
Makam Putroe Neng berada di Blang Puloe, Kota Lhokseumawe. Aslinya beliau bernama Nian Nio Lian Khi, yaitu seorang komandan perang wanita yang berasal dari Cina. Konon Nian Nio Lian Khi dikalahkan oleh pasukan Meurah Johan yang dipimpin seorang ulama yang berasal dari kerajaan Pereulak dimana pada saat itu mereka berada di Indra Purba yang bercocok tanam di daerah Maprai (sekarang daerah Sibreh) dan mereka membuka kebun lada dan merica. Setelah kalah, Jenderal Nian Nio Lian Khi masuk Islam dan diberi gelar Putroe Neng.

*END*
 Sumber : Berbagai Sumber
BY : MAISARAH JUFRI :)